Rabu, 24 Februari 2016

Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PEMBELAJARAN

A.    Pengertian
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dilatihkan bagi calon guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, efisien dan menarik. Keterampilan membuka pelajaran merupakan upaya guru dalam memberikan pengantar/pengarahan mengenai materi yang akan dipelajari siswa sehingga siswa siap mental dan tertarik mengikutinya. Sedangkan keterampilan menutup pelajaran merupakan keterampilan  membantu siswa dalam menemukan konsep, prinsip, dalil, hukum atau prosedur dari inti pokok bahasan yang telah dipelajari.
Pada dasarnya keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam memulai dan mengakhiri suatu pelajaran. Soli, Ambimanyu (2008) secara singkat mengemukakan bahwa membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran.


B.     Membuka Pelajaran
Yang dimaksud dengan keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan guru pada awal pelajaran untuk menciptakan suasana ‘siap mental’ dan menimbulkan perhatian siswa agar terarah pada hal-hal yang akan dipelajari. Beberapa cara yang dapat diusahakan guru dalam membuka pelajaran adalah dengan :
(1) menarik perhatian siswa,
(2) memotivasi siswa,
(3) memberi acuan/struktur pelajaran dengan menujukkan tujuan atau kompetensi dasar dan indikator hasil belajar, serta pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja, dan pembagian waktu,
(4) mengaitkan antara topik yang sudah dikuasai dengan topik baru, atau
(5) menanggapi situasi kelas.

Dalam usaha menarik perhatian dan memotivasi siswa, guru dapat menggunakan alat bantu seperti alat peraga/surat kabar/gambar-gambar,dan kemudian guru dapat menceritakan kejadian aktual, atau guru dapat memberi contoh atau perbandingan yang menarik. Tetapi, hendaknya diperhatikan semua cara itu harus relevan dengan isi dan indikator kompetensi hasil belajar yang akan dipelajari siswa.
Dalam usaha mengaitkan antara pelajaran baru dengan materi yang sudah dikuasai siswa, guru hendaknya mengadakan apersepsi. Apersepsi merupakan mata rantai penghubung antara pengetahuan siap siswa yang telah dimiliki oleh siswa untuk digunakan sebagai batu loncatan atau titik pangkal menjelaskan hal-hal baru atau materi baru yang akan dipelajari siswa.
Komponen pertama dalam mengajar adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Dalam keterampilan membuka pelajaran harus memberikan pengantar atau pengarahan terhadap materi yang akan diajarkan pada peserta didik agar siap mental dan tertarik untuk mengikutinya.
Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran semacam itu tidak saja harus dilakukan guru pada awal jam pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menyiapkan mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha dengan memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari. Siswa yang mentalnya siap untuk belajar adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, mengetahui masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut.
Inti dari kegiatan keterampilan membuka pelajaran terkait dengan usaha guru dalam menarik perhatian siswa memotivasi memberi acuan tentang tujuan, pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja serta pembagian waktu, mengaitkan pelajaran yang telah dipelajari dengan topik baru, menganggapi situasi baru. Wardani (1984) mengemukakan bahwa inti keterampilan membuka adalah menyiapkan mental murid agar mereka siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan, dan membangkitkan minat dan perhatian siswa apa yang akan dibicarakan, dan membangkitkan minat dan perhatian siswa apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Tujuan umum membuka pelajaran adalah agar proses dan hasil belajar dapat tercapai secara efektif dan efisien. Efektivitas proses dapat dikenali dari ketepatan langkah-langkah belajar siswa,sehingga didapatkan efisiensi belajar yang maksimal.

Sementara tujuan khusus membuka pelajaran dapat diperinci sebagai berikut :
a.  Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untuk menghadapi tugas-tugas pembelajaran yang akan dikerjakan
b.   Peserta didik mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan
c.   Peserta didik mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang                              mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari mata pelajaran
d.  Peserta didik mengetahui hubungan antara pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya
e.   Peserta didik dapat menghubungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan atau    konsep-konsep yang trcantum dalam suatu peristiwa
f.   Peserta didik dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu, sedangkan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilan dalam mengajar (Hasibuan, dkk., 1991: 120)

C.     Menutup Pelajaran

Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu.
Namun demikian, dalam pembelajaran guru sering tidak melakukan usaha membuka dan menutup pelajaran tersebut. Setelah melakukan tugas rutin seperti menenangkan kelas, mengisi daftar hadir, menyuruh siswa menyiapkan alat-alat pelajaran guru langsung saja masuk pada kegiatan inti pelajaran. Misalnya guru berkata: “Anak-anak hari ini bu guru akan mengenalkan tentang bentuk PUISI, PANTUN,dan DRAMA adalah ...” Setelah pelajaran usai guru tidak melakukan usaha menutup pelajaran. Ia langsung berkata: “Anak-anak waktunya sudah habis, pelajaran ini kita lanjutkan besok. Selamat siang anak-anak”. Selain itu, dalam inti pelajaran yang bermaksud mengajarkan macam-macam bangun ruang dengan sifat-sifatnya, guru menerangkan terus sampai selesai tanpa ada usaha merangkum ciri-ciri bangun ruang.

D.    Prinsip-Prinsip Membuka Pelajaran
1.      Prinsip Bermakna
Penerapan prinsip bermakna adalah mempunyai nilai tercapainya tujuan penggunaan keterampilan membuka pelajaran .artinya, cara guru dalam memilih dan menerapkan komponen keterampilan membuka pelajaran mempunyainilai yang sangat tepat bagi siswa dalam mengondisikankesiapan dan ketertarikan siswa untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu, dalam memilih jenis kegiatan untuk membuka pelajaran,perlu mempertimbangkan relevansinya dengan tujuan membuka pelajaran tersebut.
2.      Kontinu (Berkesinambungan)
Penggunaan keterampilan membuka pelajaran bersifat kontinu                                         (berkesinambungan). Artinya, antara gagasan pembukaan dengan pokok bahasan tidak terjadi garis pemisah. Oleh karena itu, gagasan pembukaan dengan pokok bahasan dari segimateri harus harus ada relevansinya. Disarankan bahwa gagasan pembuka harus memiliki tingkat inklusivitas yang lebih tinggi/umum dibandingkan pokok bahasan itu sendiri. Terutama sekali gagasan pembuka yang berbentuk bahan pengait.
3.   Fleksibel (Penggunaan secara Luas)
Fleksibel dalam kaitan ini berarti penggunaan yang tidak kaku, dalam arti tidak terputus-putus atau lancer. Kelancaran dalam susunan gagasan, ide, atau cerita dapat memudahkan peserta didik dalam mengonsepsi keutuhan konsep pembuka dan dapat pula dengan mudah mengantisipasi pokok bahasan yang akan dipelajari.
Faktor penting yang dapat menjamin kelancaran dalam mengungkapkan gagasan pembuka adalah penguasaan dalam pembuka. Karena itu pengetahuan yang luas yang dimiliki oleh guru dapat membantu penguasaan penggunaan keterampilan pembuka pelajaran. Dalam konteks fleksibilitas membuka pelajaran ini, membuka pelajaran tidak selalu harus dengan mengungkapkan gagasan, namun bisa dengan bertanya, membawa benda model, menunjuk siswa untuk menjadi model, memberikan teka-teki, dan sejenisnya yang relefan dengan pokok bahasan.
4.   Antusiasme dan Kehangatan dalam Mengomunikasikan Gagasan
Antusiasme menandai kadar motivasiyang tinggi dari guru danhasil ini akan berpengaruh pada motivasi yang tinggi pula pada peserta didik. Antusiasme dan kehangatan dapat ditunjukkan misalnya bertanya kabar peserta didik, menanyakan mengapa teman mereka tidak bisa masuk, atau bercerita sedikit yang dapat menyentuh perasaan, atau kegiatan lain yang menujukkan rasa simpati dan empati dalam rangka menciptakan antusiasme dan kehangatan.


5.   Prinsip-Prinsip Teknis dalam Penggunaan Keterampilan Membuka Pelajaran
Prinsip-prinsip teknis dalam membuka pelajaran dapat diuraikan sebagai berikut :
a.      Singkat, padat dan jelas
b.      Keterampilan tidak diulang-ulang atau berbelit-belit
c.      Menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak
d.     Disertai contoh atau ilustrasi seperlunya
e.      Mengikat perhatian anak

E.     Pelaksanaan Membuka dan Menutup Pelajaran

Kegiatan membuka dan menutup pelajaran dilaksanakan pada setiap awal dan akhir pelajaran. Artinya sebelum guru menjelaskan sebuah materi terlebih dahulu guru harus dapat mengkondisikan mental dan menarik perhatian siswa pada materi yang akan dipelajari. Contohnya dengan menimbulkan motivasi dan memberi acuan  atau struktur pelajaran dengan menunjukkan tujuan atau kopetensi dasarsecara indikator hasil belajar, pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja, dan pembagian waktu belajar kepada siswa. Demikian pula sebelum mengakhiri pelajaran, terlebih dahulu guru harus menutup pelajaran, misalnya dengan memberikan rangkuman atau mengadakan evalusi.
Pelaksanaan membuka dan menutup pelajaran dilaksanakan juga pada setiap awal dan akhir penggal kegiatan inti pelajaran. Artinya, seorang  guru dalam mengwali dan mengakhiri satu penggal inti pokok-pokok materi pelajaran juga harus melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran. Contohnya, membuka pelajaran dengan mengaitkan antara inti pokok materi yang sudah dikuasai siswa misalnya materi definisi dan kegunaan transformasi dalam kehidupan sehari-hari  dengan inti pokok materi  yaitu pemecahan masalah dalam bentuk soal.dan setiap inti pokok materi yang sudah dipelajari siswa juga harus dituup dengan sebuah pemantapan atau evaluasi materi dengan cara mengajukkan sebuah pertanyaan dan memberikan kesimpulan materi tersebut.















Pendekatan Mutakhir dalam Pebelajaran Bahasa

PENDEKATAN MUTAKHIR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Sampai dengan tahun 60-an konsep pembelajaran bahasa didominasi oleh pandangan yang secara implisit mengatakan bahwa guru adalah pemilik ilmu sedangkan siswa adalah objek yang menjadi sasaran guru. Penelitian maupun praktik pembelajaran bahasa waktu itu lebih dicurahkan untuk dapat mengajarkan bahasa sebaik-baiknya. Hampir tidak pernah disinggung peranan para siswa dalam menanggapi masukan-masukan yang diberikan.
Pembelajaran yang disajikan yakni:
1.      Pembelajaran Bahasa Masyarakat (Community Language Learning)
2.      Respons Fisik Total (Total Physical Response)
3.      Pendekatan Alamiah (The Natural Approach)
4.      Pendekatan Diam (The Silent Way)
5.      Sugestopedia (Suggestopedy)

1.   1. Pembelajaran Bahasa Masyarakat (Community Language Learning)
a.   a. Latar Belakang
Pembelajaran Bahasa Masyarakat (PBM) merupakan suatu ide yang muncul pada tahun 1957, yang dicetuskan oleh Charles A. Curran, seorang spesialis dalam konseling dan seorang professor psikologi di Universitas Loyola, Chicago. Pendekatan ini menerapkan psikoterapi dalam bentuk konseling pada para mahasiswanya. Bahasa yang dipakai dalam eksperimen ini adalah bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan kemudian ditanggapi dan dicoba oleh peminat lain, seperti bahasa Jepang, Cina, Indonesia, dan Swahili. Implikasinya dalam pengajaran kebudayaan pun telah diterapkan orang. Dari para peminat lain, dilaporkan bahawa hasil yang telah mereka capai melebihi hasil yang dicapai dengan metode pengajaran yang konvensional.

b.   b.Prinsip Dasar
Karena latar belakang pendidikan formal Curran adalah psikoterapi, dia menyejajarkan pembelajaran bahasa sebagai persoalan antara seorang ilmu jiwa dengan seorang pasien. Hal ini tercermin dalam dua istilah yang dipakainya, yakni klien dan konselor untuk menggantikan siswa dan guru. Curran beranggapan bahwa pada waktu seorang terjun ke dalam suatu arena yang baru seperti proses belajar bahasa asing, menusia merasa asing, manusia dihinggapi oleh rasa tidak aman, rasa terancam, rasa cemas, konflik  dan berbagai perasaan lain yang secara tiak disadari menghambat pembelajar untuk mencapai keberhasilan. Dalam istilah lain, manusia mengembangkan inhibisi (hambatan) dalam pembelajaran. Banyak penelitian membuktikan bahwa pembelajar akan gagal jika inhibisi masih ada dalam pembelajaran.
Dalam Pembelajaran Bahasa Masyarakat, tugas utama seorang konselor adalah untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi segala perasaan negative para kliennya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki sikap yang fasilitatif, baik dalam menularkan pengetahuannya maupun melayani para kliennya maju dari satu tahap ke tahap yang lain.
Dalam kaitannya dengan keadaan psikologi para siswa, Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan pembelajaran. Enam konsep itu dicakup dalam suatu singkatan, SARD yang merupakan singkatan dari security (rasa aman), attention-aggression (atensi-agresi), retention-reflection (retensi-refleksi), dan discrimination (diskriminasi).
Security adalah rasa aman pada diri klien maupun konselor. Melalui berbagai eksperimen yang telah dilakukan, Curran berkesimpulan bahwa dalam usahanya menggunakan bahasa asing, siswa seolah-olah mencari teman senasib yang ada di lingkungannya yang memiliki kemampuan yang sama atau lebih rendah dari dia. Rasa aman dapat ditemukan apabila rekan sekelas beserta konselornya menunjukkan sikap gotong royong dan memberikan kekpercayaan kepadanya. Konsep dari rasa aman itu meminta pula konselor untuk bertindak sebagai orang yang menyebarkan benih yang diharapkan tumbuh pada kliennya.
Atensi-agresi (attention-aggression) merupakan syarat psikologis kedua yang harus ditumbuhkan. Atensi ? Agresi (aggression) dimaksudkan agar para siswalah yang berperan aktif dalam proses belajar ini. Dalam PBM, proses ini tampak sekali tidak hanya  pada peran serta siswa dalam kelas, tetapi juga keputusan siswa untuk mencari topic dan bahan pelajaran sendiri.
Refleksi (reflection) dan Retensi (retention) diperlukan pula dalam proses belajar. Dalam proses refleksi atau bercermin diri itu para klien melakukan semacam introspeksi untuk mengtahui sampai sejauh mana mereka telah menguasai bahan dan masalah apa yang timbul dalam kaitan itu. Curran membagi refleksi menjadi dua macam, yakni refleksi teks dan refleksi pengalaman. Kedua refleksi ini dilakukan pada tiap akhir kelas.
Dalam refleksi teks, para klien mendengarkan kembali percakapan yang telah mereka lakukan beberapa menit atau jam sebelumnya untuk merenungkan dan mengecamkan kembali arti dan makna, serta manfaat kalimat atau frase yang telah mereka buat. Perenungan dan pengecaman seperti itu, secara psikologis diperlukan oleh siswa, karena ego mereka akan menuju ke segi positif, apabila mereka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka dapat berbahasa asing walaupun masih jauh dari sempurna.
Refleksi pengalaman dimaksudkan untuk mengeluarkan segala permasalahan psikologid yang dialami tiap klien selama kelas sebelumnya berlangsung. Permasalahan itu dapat berupa keraguan, konflik, ketidak-menentuan, kemarahan, kecemasan, dan rasa emosional yang lain.
Dalam pertemuan seperti ini konselor dituntut untuk dapat memberikan bimbingan dan pengarahan psikologis yang akan membawa klien kea rah yang positif. Dari kedua refleksi ini, akan tercapai retensi yang kan membantu klien, (a) memahami, menghayati, dan memanfaatkan apa yang telah dipelajari, dan (b) memanggil kembali (retrieval) semuai ini pada saat diperlukan.
Unsur terakhir untuk menumbuhkan pembelajaran itu adalah diskriminasi (discrimination). Seperti halnya pada anak kecil maupun orang dewasa, pada tahap-tahap pertama  penguasaan suatu bahasa, klien sering tidak mengindahkan ketepatan ucapan, ungkapan, maupun kalimat. Pada taraf ini yang diperlukan adalah komunikasi mengenai isi pembicaraan. Meskipun demikian, pada tahap akhir klien perlu untuk dapat membedakan satu elemen bahasa dari yang lain secara teliti sehingga tingkat kebahasaan yang dikuasainya itu tidak banyak mengandung kesalahan lagi.

c.    c. Tahap Penguasaan
1.      Tahap embrionik (embryonic stage) merupakan suatu tahap klien sangat bergantung pada konselornya. Pada tahap ini, rasa ketidak-menentuan klien menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di hadapan konselor dan orang lain yang tak ia kenal. Tugas konselor adalah menghilangkan atau mengurangi perasaan seperti ii dengan memberikan bimbingan atau penyuluhan yang layak. Konselor menjelaskan aktivitas apa yang diharapkan dan memberi waktu pada klien untuk merefleksikan dirinya mengenai pengalamanya selama itu. Dengan mengemukakan masalah yang mendasari ketak-menentuan ini dan membaginya bersama rekan lain akan timbul suatu keberanian untuk memakai bahasa yang sedang dipelajarinya.
2.      Tahap asersi diri (self-assertion stage), merupakan tahap di mana klien telah memperoleh dukungan moral dari rekan senasibnya untuk bersama-sama menggunakan bahasa asing dan menemukan identitas sebagai penutur bahasa. Pada tahap ini, klien telah berani secara bertahap melepaskan diri dari konselornya dan memakai bahasa asing langsung dengan klien-klien lainnya.
3.      Tahap kelahiran (birth stage), klien secara bertahap mulai mengurangi pemakaian bahasa ibunya. Dia telah mulai merasakan kebiasaannya dalam memakai bahasa asing dan hal ini menimbulkan adanya rasa aman di antara usic mereka.
4.      Pada tahap keempat, klien tidak lagi banyak diam pada waktu diadakan pertemuan konseling seperti pada tahap pertama, tetapi lebih aktif pada percakapan-percakapan yang hidup.
5.      Tahap terakhir, tahap independen (independent stage), merupakan tahap di mana klien telah menguasai semua bahan. Pada tahap ini klien memperluas bahasanya dan mempelajari pada aspek usic dan budaya dari para penutur asli.

d.   d. Teknik Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam PBM, yang dianjurkan oleh Curran ialah tiap kelas terdiri atas enam sampai dua belas klien, dan tiap klien mempunyai seorang konselor. Pengaturan meja dan kursi dibuat bentuk semacam lingkaran. Konselor berada di belakang klien. Atau mungkin konselor dapat berada di ruang lain dan dihubungkan dengan klien melalui media elektronik.
Dalam PBM, tidak dipaki suatu buku teks apapun. Para klien datang untuk memulai kelasnya dengan duduk melingkari meja dan mereka bebas untuk memilih usic apa saja yang akan mereka bicarakan hari itu. Pada akhir kelas, rekaman pada proses pembelajaran tersebut diputar kembali untuk direnungkan dan dihayati.

e.   e. Hasil yang Dicapai
Laporan dari para penganut atau pencoba pendekatan ini menunjukkan bahwa hasil yang dicapai sangat baik atau paling tidak memberikan harapan yang cerah di masa depan. Eksperimen yang dirintis oleh Curran selama lebih dari lima belas tahun di Universitas Loyola memberi dasar yang mantap untuk mengembangkan metode ini. Sejalan dengan metode Curran, Stevick, La Vorge dan Taylor juga berkesimpulan bahwa metode ini mempunyai masa depan yang dapat diharapkan.

2.  2. Respons Fisik Total
a. a. Latar Belakang
Respons Fisik Total (Total Physical Response) dipelopori oleh James J. Asher. Pada pertengahan tahun ’60-an ia memulai eksperimen pembelajaran Bahasa dengan memanfaatkan aktivitas fisik (motorik). Respons fisik total berkaitan dengan teori pelacakan ingatan dalam psikologi. Semakin sering atau semakin intensif hubungan ingatan (memori) dilacak, semakin kuatlah asosiasi memori itu dan semakin mudah untuk diingat kembali. Pelacakan kembali dapat dilakukan secara verba atau dengan cara  menghubungkannya dengan gerakan fisik (gerakan tubuh).
bb. Prinsip-prinsip Dasar
Respons Fisik Total (RFT) didasari oleh asumsi bahwa asimilasi dari informasi dan keterampilan dapat ditingkatkan secara signifikan apabila kita memanfaatkan system sensori kinestetik. Dasar ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa dalam menguasai bahasanya sendiri seorang anak kecil lebih banyak mendapatkan pajanan ujaran-ujaran yang memerlukan tanggapan fisik daripada macam ujaran yang lain. RFT memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para siswa untuk lebih dulu membekali diri dengan keterampilan pemahamam sampai mereka benar-benar merasa siap untuk berbicara.
Otak dan sistem  saraf manusia untuk menguasai bahasa sudah terprogram secara biologis dan dalam urutan serta cara tertentu yakni pemahaman sebelum keterampilan berbicara dengan mengadakan sinkronisasi antara bahasa dengan gerakan tubuh.
c. c. Teknik Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran RFT idealnya adalah  di ruang yang agak besar yang dapat diubah-ubah bentuknya sesuai dengan situasi yang sedang diperagakan. Untuk mencapai hasil yang optimal jumlah siswa dibatasi antara 20-25 siswa. Masalah usia siswa tidak dipermasalahkan dalam RFT.  Satu paket lengkap terdiri atas 53 pelajaran yang masing-masing berlangsung 3 jam. Dengan demikian, RFT memerlukan waktu sekitar 159 jam. Hampir semua bahan pelajaran disajikan dalam bentuk kalimat perintah untuk merealisasikan kaitan antara tubuh dengan penguasaan bahasa. Karena arti dalam RFT disajikan dalam bentuk peragaan fisik, pendekatan ini tidak memerlukan terjemahan ke bahasa siswa. Pemakaian terjemahan dibutuhkan apabila bahan yang disajikan berupa abstraksi.
Koreksi terhadap kesalahan  siswa hanya diberikan pada saat-saat yang tepat karena bagi RFT kesalahan adalah hal yang wajar yang selalu dialami. Proses pengajarannya sendiri dimulai dengan kalimat yang pendek, sederhana, dan dapat divisualisasikan di kelas. Langkah selanjutnya dengan memperpanjang kalimat. Pada tiap pelajaran baru selalu diberikan ringkasan dari pelajaran sebelumnya.
d.d. Hasil yang Dicapai
Berdasarkan eksperimen yang telah dilakukan yakni pembelajaran selama 32 jam untuk bahasa Jerman bagi orang dewasa telah membuktikan bahwa hasil yang dicapai sama  dengan hasil selama 75 atau 150 jam dengan metode konvensional di universitas. Hasil satu semester RFT sama dengan dua semester audio-lingual, padahal jumlah mahasiswanya 350 orang. Proses pengalihan dari pemahaman ke ujaran, Asher mengatakan bahwa proses ini akan berjalan alamiah.

3.  3. Pendekatan Alamiah
a.   a. Latar Belakang
Pendekatan alamiah (Natural Approach, NA), dirintis pada tahun 1977 oleh Tracy D. Terrell, seorang guru bahasa Spanyol dari Universitas California. Semula pendekatan ini bersandar pada pendekatan lama, yakni metode langsung. Tetapi, perkembangannya kemudian makin menjauh dari metode ini sehingga nama pendekatan alamiah dianggap lebih cocok. Istilah alamiah didasarkan atas suatu pandangan bahwa penguasaan (mastery) suatu bahasa lebih banyak bertumpu pada pemerolehan (acquisition) bahasa itu dalam konteks yang alamiah dan kurang pada pembelajaran (learning) aturan-aturan yang secara sadar dipelajari satu per satu.

b.   b. Prinsip-prinsip Dasar
Bertitik tolak dari suatu pandangan bahwa tujuan pembelajaran bahasa adalah untuk membuat siswa dapat berkomunikasi, maka focus dan cara pembelajaran bahasa harus dialihkan dari apa yang sekarang ini umum dilakukan. Siswa harus didorong untuk memiliki kompetensi komunikatif yang oleh Terrel didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk dapat memahami apa yang dikatakan oleh penutur asli dan dimengerti apabila dia berbicara dengan penutur asli tanpa kesalahan yang dapat mengganggu arti yang dimaksud.
            Definisi ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi tertentu. Bertindak sebagai pendengar, siswa tidak diharuskan menguasai semua kata dan macam konstruksi gramatik yang diucapkan oleh penutur asli. Penutur asli adalah sebuah mesin yang mampu mengkreasi segala macam wujud bahasa selama wujud itu dimungkinkan di dalam system bahasa yang bersangkutan. Dalam pendekatan alamiah seorang siswa cukup untuk disyaratkan menguasai sebagian dari bentuk lisan yang didengarnya, karena dalam komunikasi yang nyata pasti ada hal-hal di luar kebahasan yang membantu dia memahami ujaran yang didengarnya.
Ketika bertindak sebagai pembicara, seorang siswa pada taraf permulaan tidak diharapkan pula untuk menguasai, apalagi secara sempurna, semua bentuk gramatikal, lafal yang baik, kata-kata yang tepat, dsb. Harapan untuk kebagusan elemen-elemen seperti ini hanyalah angan-angan dan impian sang guru. Dalam komunikasi yang nyata tak ada seorang penutur asli mana pun yang akan memperhatikan kemulusan ucapan, kalimat, atau pun intonasi dari seorang penutur asing. Kecuali dalam kasus-kasus yang khusus, penutur asli akan memperhatikan isi pembicaraan dan bukan elemen-elemen kebahasaanya.
Ragam yang sering disebut sebagai interlanguage (Selinker 1972), approximative system (Nemser 1971) atau idiosyncratic dialect (Corder 1971) ini merupakan ragam yang pasti akan dimiliki oleh siswa yang sedang belajar bahasa asing. Sikap pendekatan alamiah terhadap soal ini adalah bahwa kita tidak perlu terlalu merisaukannya. Implikasi dari sikap ini adalah bahwa dalam pendekatan alamiah koreksi kesalahan siswa tidak dilakukan dalam waktu proses belajar di kelas melainkan di luar kelas dalam bentuk pelatihan-pelatihan atau pekerjaan rumah yang khusus dimaksudkan untuk itu.
Penekanan pada komunikasi mau tidak mau memaksa pendekatan alamiah untuk menyajikan kosakata dalam jumlah yang banyak. Hal ini diperlukan karena dalam pendekatan alamiah benar-benar dibedakan antara komprehensi dan produksi. Dalam mengembangkan kemampuan komprehensi ini Terrel mengajukan beberapa cara, salah satu di antaranya adalah pendekatan respons fisik total (Total Physical Response). Cara lain, misalnya ialah dengan memanfaatkan nama siswa di kelas dan deskripsi tentang dia, yang diikuti oleh nama lain beserta deskripsinya pula, semuanya nyata. Cara lain lagi adalah dengan memakai gambar-gambar yang mirip tetapi tak sama.
Model teoritis yang mendasari pendekatan alamiah adalah lima hipotesis (Krashen & Terrel 1984: 26-39). Pertama, hipotesis pemerolehan-pembelajaran (The Acquistion-Learning). Menurut hipotesis ini penguasaan bahasa oleh orang dewasa terjadi melalui dua proses yang berbeda, yakni pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan adalah formulasi kaidah tata bahasa yang dilakukan di bawah sadar, sedangakan pembelajaran adalah studi tentang kaidah tata bahasa yang dilakukan berdasarkan kognisi secara sadar. Kedua, hipotesis urutan alamiah (The Natural Order Hypothesis). Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa ada urutan-urutan alamiah dalam pemerolehan bahasa. Dan dari segi tata bahasa, misalnya, ada pola-pola tata bahasa yang diperoleh awal usic pola-pola lain yang baru diperoleh kemudian. Ketiga, hipotesis monitor (The Monitor Hypothesis). Krashen dan Terrel mengtakan bahwa proses pembelajarandi kelas hanya mempunyai kegunaan yang terbatas atau sekunder. Hasil dari proses seperti ini hanya akan berbentuk suatu monitor,suatu penyunting, yang fungsinya hanyalah untuk meneliti kalimat-kalimat yang akan atau telah dibuat pembelajar. Keempat, hipotesis masukan (The Input Hypothesis). Dalam hipotesis yang mula-mula dicetuskan oleh Krashen pada tahun 1980 di Konferensi Meja Bundar Universitas Georgetown ini menyatakan bahwa komprehensi lisan dan tulisan merupakan dua unsur penting yang harus didahulukan. Siswa harus cukup banyak diberi masukan supaya terkondisikan dengan bahasa barunya. Kemampuan berbicara dan menulis tidak dapat diajarkan secara langsung, tetapi akan muncul setelah siswa membangun kompetensi dalam komprehensinya. Hipotesis terakhir adalah hipotesis saringan afektif (The Affective Filter Hypothesis).  Sikap siswa dalam usahanya untuk memperoleh bahasa juga sangat penting. Kalau sikap itu digambarkan sebagai saringan afektif, saringan yang ketat akan membuat siswa tidak cukup terbuka untuk menerima masukan dari lingkungannya. Sebaliknya, saringan yang longgar,yakni sikap positif akan memperoleh masukan tadi.
Dalam pendekatan alamiah kelonggaran saringan itu dapat dilaksanakan karena :
1)      Siswa tidak diharuskan sudah berbicara samapai dia betu-betul merasa siap.
2)      Siswa boleh menjawab dalam bahasanya sendiri, bahasa asing yang sedang dipelajarinya, atau campur-campur.
3)      Siswa tidak dikoreksi, kecuali bila proses komunikasi terganggu.

c.   c.Teknik Pelaksanaan Pembelajaran
Pendekatan alamiah diciptakan untuk mengembangkan kemampuan dasar dalam berkomunikasi. Tujuan ini dituangkan dalam wujud situasi,fungsi,dan topic. Krashen & Terrel memberikan 14 kelompok situasi yang tentu saja tidak boleh dianggap sebagai jumlah yang tertutup. Karena konsentrasi pendekatan alamiah adalah pengembangan kemampuan komprehensi, tekanan pembelajarannya lebih banyak pada penyajian kosakata dalam jumlah yang banyak dan kurang pada unsur tata bahasa. Demikian pula, lafal tidak diberi perhatian khusus, kecuali bila mengubah arti.
Seluruh waktu di kelas dimanfaatkan untuk aktivitas-aktivitas yang menopang pemerolehan dan bukan pembelajaran. Empat contoh aktivitas semacam ini adalah :
1)                  Afektif-humanistik
Dalam hal ini aktivitas afektif-humanistik bertujuan untuk melibatkan perasaan,pendapat,keinginan,reaksi,ide, dan sebagainya.
2)                  Bersifat memecahkan masalah
Pemecahan masalah disajikan agar siswa dapat memusatkan pada pencarian jawaban situasional yang benar.
3)                  Berbentuk permainan
Bentuk permainan tidak boleh dianggap iseng atau selingan melainkan suatu aktivitas yang perlu direncanakan secara teliti untuk membantu pemerolehan.
4)                  Berorientasikan isi masalah
Aktivitas yang berorientasikan pada isi menekankan subjek akademik yang memang diperlukan oleh siswa.
Di samping pemakaian respons fisik total seperti yang telah dikatakan di muka, pendekatan alamiah memakai beberapa cara lain untuk mengembangkan kemampuan komprehensif; salah satu di antaranya adalah pemakaian situasi di kelas.
d.  
d. Hasil yang Dicapai
Meskipun pendekatan alamiah telah dipakai oleh banyak orang untuk mengajarkan berbagai bahasa seperti bahasa Jerman, Portugis, Spanyol, dan Inggris, namun klaim mengenai keampuhan pendekatan ini, belum pernah dinyatakan secara numerical. Satu-satunya pernyataan yang ditemukan hanya berbunyi seperti ini “Dengan pendekatan alamiah, setelah satu semester siswa menunjukkan kinerja lebih baik dalam berbicara, menulis, serta kosakatanya menjadi lebih luas, lebih dapat menstransmisikan banyak informasi, lebih akurat dalam penggunaan kalimat bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pendekatan langsung”.

4.3. Pendekatan Diam
a.    a. Latar Belakang
Pendekatan lain yang dinamakan pendekatan diam (Silent Way, SW), sebenarnya telah mulai dirintis pada tahun 1954 oleh Caleb Gattegno. Tetapi, buku pertama yang membeberkan metode ini baru dterbitkan pada tahun 1963 dengan judul Teaching Foreign Languages in Schools: The Silent Way. Setelah mengalami berbagai ekspreimen tambahan selama tiga belas tahun, Gattegno menerbitkan buku lagi, The Common Sense of Teaching Foreign Languages,yang memerinci dan merevisi pemikiran dia semula. Pendekatan Diam adalah perkembangan dari pengalaman Gattegno sebelumnya, dan sebagian dari pendekatan diam mencerminkan pandangan Gattegno di bidang nonbahasa.

b.Prinsip-prinsip Dasar
Gattegno berkesimpulan bahwa manusia diberkati dengan kemampuan untuk menggerakkan kekuatan-dalam lebih banyak daripada yang disadarinya. Penguasaan bahasa tidak dapat dilakukan dengan imitasi penubian saja. Gattegno menyatakan bahwa pikiran anak-anak dilengkapi dengan kemampuan untuk bekerja dengan lebih baik dengan mengadakan coba dan ralat dan eksperimen yang memang direncanakan dengan menunda penilaian dan merevisi simpulan.
Konsekuensi dari pandangan ini ada dua macam. Pertama, kita harus dapat menumbuhkan kesadaran akan adanya kekuatan ini sehingga yang dulu dipakai untuk menguasa B1 kini dapat dipakai lagi untuk B2. Cara untuk mencapai hal ini dilakukan antara lain dengan membiasakan siswa mendengaran melodi bahasa. Siswa perlu diberi kesempatan sebanyak mungkin untuk mendengarkan melodi bahasa yang sedang dipelajarinya maupun bahasa-bahasa yang lain. Berbagai warna yang berkaitan dengan bunyi dan kata juga perlu disajikan.
Konsekuensi kedua adalah bahwa kita tidak boleh berkonsentrasi pada pengajaran tetapi pada pembelajaran. Doktrin Gattegno adalah bahwa pembelajaran itu yang utama sedangkan pengajaran itu bersifat penunjang saja. Jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, proses penguasaan bahasa itu harus dilakukan oleh siswa itu sendiri. Merekalah yang harus lebih banyak aktif di kelas, memanfaatkan paling tidak 90% dari seluruh waktu tatap muka, sedangkan guru hanya bertindak sebagai pemberi bahan di sana sini di mana perlu. Dalam kebanyakan hal, guru diwajibkan untuk lebih banyak diam, kecuali waktu menyajikan bahan baru. Penanganan kelas dilakukan dengan gerakan tangan, gelengan kepala, senyum, dsb. Jadi, istilah diam itu berlaku untuk gurunya bukan untuk siswanya.
Karena penguasaan B1 tidak sama dengan B2 maka metode pembelajarannya tidak mungkin yang alamiah. Secara eksplisit Gattegno menyerukan agar pendekatan yang dipakai itu menjadi pendekatan yang sangat artifisial dan sangat terkontrol (Gattegno 1963:12). Cara penyajian bahan, pemilihan bahan, dan alat peraga yang dipakainya juga sangat tidak konvensional. Bahan tentu saja disajikan dengan media verbal, tetapi instruksi kepada siswa, koreksi kesalahan, dan penanganan kelas yang dilakukan tanpa memakai bahasa.
Berbeda dengan pendekatan alamiah (Natural Approach), pendekatan diam (Silent Way) sangat membatasi jumlah kosakata yang disajikan. Dalam empat kali tatap muka (yang jumlah jamnya tidak disebutkan tetapi diperkitakan 4 jam) hanya disajikan sekitar 30 kata yang terdiri atas satu kata benda, enam kata sifat warna, tiga kata bilangan, dua artikel, tiga kata kerja, lima kata ganti persona, tiga kata ganti petunjuk, dan kata keterangan, satu kata depan, dan satu kata sambung.
Pembatasan seperti ini didasarkan suatu pandangan bahwa siswa harus betil-betul memanfaatkan daya kognisisnya untuk “mengutak-atik” jumlah kata yang sedikit, tetapi dicampur-campur  dalam konstruksi yang berbeda-beda ini.
Mengenai kesalahan yang dibuat siswa, Gattegno tidak langsung melakukan koreksi. Paling-paling yang dilakukan adalah memberi isyarat kepada siswa lain untk membantu memberikan respons yang benar.
Untuk membantu siswa menguasai bahan yang diberikan, Gattegno memakai beberapa alat peraga (1) satu perangkat potongan kayu dengan warna dan ukuran yang berbeda-beda, (2) beberab Fidel (Fidel Chart), (3) beberan dinding (wall chart), (4) pita dan alat rekaman, film, transparansi, gambar, (5) tiga teks dan buku cerita, dan (6) tiga antologi.
Pada awal pembelajaran pemakaian potongan kayu (rods) ini dimaksudkan untuk menyajikan nama benda itu sendiri, konsep tetang ukuran (panjang, pendek), warna (merah, hijau, dsb.), harak (jauh, dekat), perbandingan (lebih panjang daripada, lebih dekat daripada), dsb. Tentu saja, tata bahasa disajikan pila dengan mencamurkan satu konsep dengan yang lain (kayu pendek ini, ambil kayu yang merah, jauh dari dia, dsb.) praktis, dan (5) kata-kata yang baru diberi garis bawah dan disertai transkripsi fonetik untuk lafalnya.

c.    c. Teknik Pelaksanaan Pembelajaran
Pada hari pertama guru mulai mengajar, dia membawa satu kotak potongan kayu berwarna seperti digambarkan di atas. Dia mengambil satu batang yang merah dan pendek sambil mengucapkan, misalnya, layuka. Dengan dua kayu yang satu kata itu siswa terpaksa menerka-nerka apakah layuka itu berarti potongan kayu atau warna merah. Setelah guru kemudian mengambil kayu lain yang berwarna biru dengan ukuran yang lebih panjang lagi dan dia juga mengucapkan kata layuka maka sadarlah para siswa bahwa layuka pasti berarti sebatang kayu, dan bukan warna merah. Dengan kata lain, siswa dipimpin untuk memakai kognisi untuk mencari arti.
Setelah beberapa kali mendemonstrasikan contoh di atas, guru memberi isyarat kepada siswa dengan gerakan tangan dan usic untuk menirukan. Kemudian secara indivisual siswa diminta memberikan kata bagi kayu yang ditunjukkan. Kata baru untuk biru, rubi, misalnya, dapat kemudian diberikan dengan cara seperti di atas. Penggabungan kalimat dapat diperagakan dengan mengangkat kayu biru yang ukurannya berbeda-beda sambil berkata rubi layuka. Secara kognitif siswa akan tahu tidak hanya arti frase itu saja, tetapi juga kaidah tata bahasanya, yakni untuk menyatakan suatu benda yang berwarna kata sifat warna diletakkan di muka kata bendanya, dsb.
Pada awal pembelajaran hanya tiga kata kerja yang diberikan. Misalnya, bilam, kaniber, dan kantole yang masing-masing artinya “ambil, berikan, dan letakkan”. Kata-kata itu satu per satu diberikan dalam konteks peragaan. Misalnya, rubi layuka bilam, sambil guru mengambil kayu biru. Dengan menambah kata dan “mengutak-atik” urutannya dapat tercipta cukup banyak kalimat dan frase.
Beberan dinding dipakai untuk melatih ucapan. Dengan guru menunjukkan huruf-huruf tertentu, yang masing-masing ada warna  untuk ucapannya, siswa diminta untuk membuat kata: r – u – b – i = rubi, dsb.

d.   d. Hasil yang Dicapai
Gattegno mengklaim bahwa dalam waktu satu tahun siswa dapat menguasai bahasa dengan metode lain dperlukan lebih dari empat tahun. Gattegno juga menganjutkan agar siswa berpindah ke bahasa asing lain seteleh menguasai satu B2 dengan pendekatan diam ini karena dalam duania modern di mana manusia bergaul secara bebas dengan manusia lain secara internasional lebih baik kalau kita menguasai beberapa bahasa asing.

5. Sugestopedia
a.    a. Latar Belakang
Pendekatan terkahir yang disajikan adalah Sugestopedia, yang mulai dirintis pada musim panas tahun 1975 di Bulgaria ketika sekelompok peminat di Institut Penelitian Pendidikan di bawah Georgi Lozanov melakukan penelitian mengenai pengajaran bahasa asing. Pada awal perumbuhannya sugestopedia hanya dicoba di negara-negara Eropa Timur seperti Soviet Rusia, Jerman Timur, dan Hongaria. Ketika pada tahun 1970 Sheila Ostrander dan Lynn Schroeder menerbitkan Psychic Discoveries behind the Iron Curtain mulailah sugestopedia Lozanov ini dikenal lebih luas. Sebagai seorang dokter dan psikoterapis. Lozanov tentu saja memanfaatkan keahlian ilmunya ini untuk mengangani bidang-bidang lain yang menjadi minatnya.
Sugestopedia telah mempunyai organisasi untuk mengembangkan pendekatan ini. Di Sofia, Bilgaria, ada Institute of Suggestology dan di Amerika sekelompok peminat telah mendirikan The Society of Suggestive-Accelerative Learning and Teaching di bawah pimpinan Donald Schuster, di lowa State University.

b.    b. Prinsip-prinsip Pengembangan
Sebagai landasan yang paling dasar dan paling bawah untuk sugestopedia adalah suggestology, yakni suatu konsep yang berpandagan bahwa manusia dapat diarahkan untuk melakukan sesuatu dengan diberikan sugesti. Pikiran siswa harus dibuat tenang, santai, dan terbuka sehingga bahan-bahan yang merangsang saraf penerimaan dapat dengan mudah diterima dan dipertahankan untuk jangka waktu yang lama.
Dalam bukunya Lozanov menerapkan sugesti ini tidak hanya pada proses belajara bahasa, tetapi juga pada bidang-bidang lain termasuk proses anastesi untuk operasi penyakit. Dalam bisang pembelajaran bahasa suasana tenang ini dicapai dengan memakai berbagai cara, salah satu diantaranya adalah yoga. Pada saat sebelum  siswa mulai tiap pelajaran, siswa diminta untuk melakukan yoga yang tujuan utamanya adalah untuk menghimpun kemampuan yang hipermnestik (hypermnestic abilities) yakni, suatu kemampuan “supermemory” yang luar biasa. Contoh yang dipakai Lozanov diambil dari seorang bernama K.M., yang dapat memperkalikan lima pasang angka (28x424, 53x541, 23x344, 63x256, dan 27x473) dalam waktu 16,68 detik. Padahal dengan kalkulator saja diperlukan waktu 28 detik.
Di samping perlunya menggali hypermnesia ini, diperlukan suatu atmosfer fisik yang mendukung proses belajar-mengajar. Atmosfer itu diciptakan dengan pemilihan rauangan yang kondusif terhadap proses pembelajaran. Ruang belakar Lozanov bukan suatu ruang kelas biasa, tetapi suatu ruang dengan kursi yang enak diduduki, diatur supaya santai, dan diterangi denganlampu-lamou yang agak redup. Pada tiap pelajaran yang diberikan pula latar belakang usic sesuai dengan jiwa bahan yang diberikan. Baik yoga, ruang, dan usic ini semuanya dimaksudkan untuk menenangkan pikiran siswa sehingga dapat dengan mudah menerima bahan yang diberikan.
Sugestopedia tidak percaya pada penggunaan laboratorium bahasa dan tidak pula percaya pada pelatihan-pelatihan struktural yang ketat. Pelatihan dalam bentuk penibuain yang mekanistik tidak akan mendatangkan hasil yang baik. Sebaliknya, sugestopedia menekankan penyerapan mental dair bahan pelajaran yang diterima, untuk kemudian direnungkan, dicamkan, dan dipakai bersama siswa lain di kelas.
Meskipun pada dasarnya sugestopedia menekankan pemakaina hanya B2 di kelas, tatapi pada saat-saat yang tepat B1 dipakai pula, terutama untuk menerangkan dan memberikan arti bagi kata-kata yang baru. Berbeda dengan pendekatan diam dan pendekatan alamiah, sugestopedia melakukan koreksi terhadap kesalahan yang dibuat oleh siswa.
Pada umumnya bahan pelajaran diberikan dalam bentuk dialog yang sangat panjang. Dialog dalam sugestopedia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) penekanan ada di kosakata da nisi, (2) dasar pembuatan dialog adalah keadaan atau peristiwa hidup yang nyata, (3) harus secara emosiaonal relevan, (4) memiliki kegunaan praktis, dan (5) kata-kata yang baru diberi garis bawah dan disertai transkripsi fonetik untuk lafalnya.

c.    c. Teknik Pelaksanaan Pembelajaran
Untuk kelas intensif, sisiwa sugestopedia bertemu empat jam sehari, enam kali seminggu, untuk jangka waktu satu bulan. Dengan demikian, satu paket pelajaran terdiri atas 96 tatap muka. Karena atmosfer kelas harus dijaga, jumlah siswa yang paling ideal adalah dua belas, lebih baik lagi kalau enam pria dan enam wanita. Tiap siswa diberi nama dan peran baru. Nama ini didasarkan pada sistem fonologi B2 dalam bandingannya dengan B1. Kalau dalam B1 tidak ada bunyi sengau, sedangkan di B2 (bahasa Perancis, misalnya) ada, nama itu dapat Leon Dupont, dia tinggal di onze rue Napoleon, dan dia bekerja sebagai macon.
Tiap pertemuan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama (sesudah hati pertama, tentunya) dipakai untuk mengulang bahan pelajaran hari sebelumnya. Ini dilakukan dalam bentuk terutama percakapan, permainan, sketsa, dan acting. Bila siswa membuat kesalahan, ia dibetulkan untuk nama dan peran yang mengandung bunyi-bunyi yang sukar juga dilakukan pada saat ini.
Pada bagian kedua, guru menyajikan bahan baru dalam bentuk dialog tradisional: bahan disajikan dan diperagakan, diikuti dengan keterangan mengenai kata-kata baru dan tata bahasa. Seperti dikatakan sebelumnya, dialog ini harus relevan, nyata, menarik dan dipergunakan sesuai dengan isinya.
Kedua bagian yang pertama ini sebenranya tidak jauh berbeda dari pendekatan yang lain. Yang betul-betul unik dalam sugestopedia adalah bagian ketiga yang dinamakan séance. Seance adalah pertemuan perkuliahan yang tujuannya ialah untuk reinforcement bahan baru pada taraf bawah sadar. Pada tatap muka ini para siswa duduk-duduk dan bersantai diri dengan posisi duduk yang dinamakan Savasana. Kegiatan seance terdiri atas dua macam, yang aktif dan pasif, dan kegiatan ini berlangsung sekitar satu jam. Pada kegiatan aktif, siswa melakukan kontrol terhadap pernapasan dengan ritme sebagai berikut: 2 detik pertama untuk tarik napas, 4 detik keudian untk tahan napas, dan dua detik terakhir untuk istirahat. Proses ini diulang-ulang selama sekitar 25 menit.
Pada dua detik tarikan napas guru menyajikan bahan dalam bentuk B1 untuk memberikan siswa kesempeatan mengerti apa yang akan disajikan dalam B2. Pada detik ketiga sampai keenam sisiwa meanahan napas dan gu ru menyajikan bahan dalam B2. Pada saat ini siswa boleh melihat buku teks dan mengulangi secara mental bahan yang sedang disajikan. Pengulangan mental merupakan bagian dari inner speech ini oleh para ilmuwan jiwa Eropa Timur dianggap sangat bermanfaat mengembangakan hypermnesia. Pada dua detik terakhir dari siklus pertama ini siswa melakukan istirahat pernapasan untuk selanjutnya mengulangi siklus kedua, ketiga, dst.
Bagian yang pasif dari seance selanjutnya, yang sering juga disebut bagian konser, berlangsung sekitar 20-25 menit. Pada saat  ini siswa mendengarkan suatu macam music gaya baroque, yaitu bentuk yang berasal dari abad ke-17 yang penuh ornamentasi dan improvisasi, efek-efek yang kontrasif seperti tercermin pada karya Bach dan Handel. Para sisiwa menutup mata dan memeditasikan bahan yang diperdengarkan. Konser ini berakhir dengan bunyi seruling yang cepat dan gembira sehingga tegugahlah siswa dari meditasi mereka masing-masing.

e.         d. Hasil yang Dicapai
Dalam kelas-kelas eksperimen maupun kelas-kelas biasa metode ini dikatakan memberikan hasil yang luar biasa. Dalam hala retensi kosakata untuk bahasa Jerman, Perancis, Inggris, dan Italia. Lozanov nyatakan bahwa rata-rata retensinya adalah 93.16%. bahakan setelah diselingi waktu sampai hampir tiga tahun pun retensi kosakata masih sempurna.
Para penganut Lozanov menghasilkan angka-angka yang berbeda-beda. Dalam  percobaannya dengan kata-kata Spanyol, Bordon, dan Schuster menemukan bahwa sugestopedia menghasilkan 2,5 kali dari pendekatan lain. Guru-guru di Lowa sedikit lebih baik, yakni mereka memerlukan hanya sepertiga dari waktu yang diperlukan oleh pendekatan lain. Klaim tertinggi dinyatakan oleh Ostrader dan Schruder: Sugestopedia dapat menghasilkan sampai 50 kali lebih baik dari metode lain.

DAFTAR PUSTAKA

Subyantoro. 2014. Teori Pembelajaran  Bahasa Implementasi Psikolinguistik Pendidikan. Semarang: Unnes Press



Teori IBM (Interaksi Belajar Mengajar) dan Faktor yang Mempengaruhi IBM

INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
            Hidup bersama antara manusia berlangsung di dalam berbagai bentuk perhubungan, dan di dalam berbagai jenis situasi. Tanpa adanya proses interaksi di dalam hidup manusia, tidak mungkin mereka dapat hidup bersama.
I.     Pengertian Interaksi Belajar Mengajar
         Interaksi terdiri dari kata inter (antar), dan aksi (kegiatan). Jadi, interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan.  Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama.
Sardiman AM. mengatakan bahwa dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator. Hubungan komunikan dan komunikator biasanya menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message). Untuk menyampaikan pesan diperlukan saluran atau media. Jadi, didalam komunikasi terdapat empat unsur yaitu: komunikan, komunikator, pesan, dan saluran atau media.
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka interaksi adalah suatu hal saling melakukan aksi dalam proses belajar mengajar yang di dalamnya terdapat suatu hubungan antara siswa dan guru untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut adalah suatu hal yang telah disadari dan disepakati sebagai milik bersama dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan pengajaran.
Belajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh individu (siswa), sedangkan mengajar mengacu kepada apa yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin belajar. Kedua kegiatan tersebut menjadi terpadu dalam satu kegiatan manakala terjadi hubungan timbal balik (interaksi) antara guru dengan siswa pada saat pengajaran berlangsung.
Dalam pendidikan, interaksi bersifat edukatif dengan maksud bahwa interaksi itu berlangsung dalam rangka untuk mencapai tujuan pribadi anak mengembangkan potensi pendidikan. Jadi, interaksi dalam hal ini bertujuan membantu pribadi anak mengembangkan potensi sepenuhnya, sesuai dengan cita-citanya serta hidupnya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat dan negara. Dalam interaksi itu harus ada perubahan tingkah laku dari siswa sebagai hasil belajar. Di mana siswa yang menentukan berhasil tidaknya kegiatan belajar mengajar dan guru hanya berperan sebagai pembimbing.
 Jadi, interaksi belajar mengajar adalah kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena adanya komunikasi antara anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan.
Sedangkan menurut Soetomo, bahwa interaksi belajar mengajar ialah hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) yang harus menunjukkan adanya hubungan yang bersifat edukatif (mendidik).  Di mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan.
Dari keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa interaksi belajar mengajar yang dimaksud di sini adalah hubungan timbal balik antara guru dan anak didik guna mencapai suatu tujuan tertentu.
II.     Komponen-komponen dalam Interaksi Belajar Mengajar
         Ada beberapa komponen dalam interaksi belajar mengajar. Komponen-komponen itu misalnya tujuan, bahan, metode dan alat. Untuk mencapai tujuan instruksional, masing-masing komponen itu akan saling merespon dan mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Sehingga tugas guru adalah mendesain dari masing-masing komponen agar tercipta PBM yang optimal. Guru selanjutnya dapat mengembangkan interaksi belajar mengajar yang lebih dinamis untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
 Mengenai komponen-komponen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a.       Tujuan
Tujuan mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi belajar mengajar. Tujuan dapat memberikan arah yang jelas ke mana kegiatan pembelajaran akan dibawa oleh guru. Tujuan pengajaran yang ditetapkan oleh guru akan mempengaruhi jenis metode yang digunakan, sarana prasarana dan lingkungan belajar mengajarnya.
b.      Bahan pembelajaran
Bahan pelajaran mutlak harus dikuasai guru dengan baik, oleh karena itu guru harus mempelajari dan mempersiapkan bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik. Bahan (materi) itu tentunya dipilih dan disesuaikan dengan bahan yang dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran yang ditetapkan.
c.       Kegiatan Belajar-Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam Kegiatan belajar mengajar. Dalam pengelolaan pengajaran dan pengelolaan kelas yang perlu diperhatikan oleh guru adalah perbedaan anak didik pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Interaksi edukatif yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara guru memahami perbedaan individual anak didik.
d.       Metode
Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru guna kepentingan pengajaran. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi metode mengajar, yaitu tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai keadaannya, fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya serta pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.
Adapun metode-metode dalam proses belajar mengajar antara lain: metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas dan metode demonstrasi.
 e.      Alat
Alat adalah segala sesuatu yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan interaksi belajar mengajar biasanya dipergunakan alat material dan non material.
Agar alat-alat tersebut mencapai tujuan, maka: Pertama harus dikenal dahulu alat-alat itu sebaik-baiknya, mengerti fungsinya dan apa yang dapat kita capai dengan alat itu. Kedua, harus jelas tujuan yang dikehendaki melalui alat tersebut. Ketiga, harus terampil dalam penggunaannya. Keempat, harus sanggup memelihara/memanfaatkan alat-alat yang ada.
 f.     Sumber Pelajaran
Bagi seorang guru harus memiliki banyak sumber-sumber belajar, sebagai bahan dasar dari materi yang diberikan. Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali, ada dimana-mana ; di sekolah, di halaman, di kota, di pedesaan, dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya. Segala sesuatu dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
 g.       Evaluasi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar . Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat instrumen penggali data tes perbuatan, tes tertulis, dan tes lisan. Oleh karenanya menurut Edwin Wand dan W. Brown, bahwa evaluation refer to the act for process to determining the value of something Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
 Tujuan evaluasi adalah mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam
mencapai tujuan yang diharapkan, memungkinkan guru menilai aktivitas atau pengalaman yang di dapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan.
 Dengan demikian jika komponen-komponen itu direncanakan dan dipersiapkan dengan matang, maka akan mengurangi hambatan-hambatan yang muncul dalam proses belajar mengajar bahkan akan lebih memotivasi anak untuk melakukan belajar secara efektif dan efisien.
III. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Belajar Mengajar
          Didalam proses pelaksanaan interaksi belajar mengajar sudah barang tentu tidak lepas dan beberapa faktor yang mempengaruhinya.Untuk lebih jelasnya mengenai faktor-faktor tersebut dapat dilihat pada uraian berikut ini:
1. Guru/pendidik
            Didalam proses interaksi belajar mengajar tidak bisa terlepas dari guru, sebab kegiatan belajar mengajar atau dengan kata lain kegiatan interaksi belajar mengajar tidak bisa berlangsung tanpa adanya guru. Dalam hal ini guru merupakan faktor yang dominan untuk tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut haruslah bisa menempatkan dirinya seirama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
           Secara kongkrit tugas guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagaimana yang dikemukakan dalam buku : “Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM’1 sebagai berikut: Guru dalam tugasnya mendidik dan mengajar murid-murid nya adalah berupa membimbing, memberikan petunjuk, teladan serta bantuan. Kecakapan, keterampilan,  nilai-nilai,  norma-norma kesusilaan, kebenaran, kejujuran, sikap-sikap dan sifat-sifat yang baik serta terpuji dan lain sebagainya.
          Dan gambaran di atas terlihat bahwa guru di dalam proses belajar mengajar dituntut untuk melaksanakan tugas dengan sebaik baiknya dalam usaha mentransfortasikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya agar tujuan pendidikan dan pengajaran dapat tercapai karena itulah dalam kegiatan mengajar seorang guru harus memahami jiwa, sifat mental, minat serta kebutuhan anak didiknya, agar bisa dengan mudah memberikan pengajaran dengan sebaik-baiknya   atau seefektif mungkin.
        Untuk menunjang pekerjaan guru sebagai tenaga pendidikan dan pengajaran, diperlukan persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang guru.
 Adapun persyaratan-persyaratan yang harus dimiliki adalah:
1. Guru harus memiliki ilmu pengetahuan
    Secara profesional seorang guru dituntut memiliki sejumlah pengetahuan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan/keguruan, seperti ilmu didaktik/metodik.
Disamping itu pula seorang guru harus memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan yang akan diberikan/disampaikan kepada anak didiknya. Karena dengan semua ini guru akan dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar dengan sebaik-baiknya didalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
2. Guru harus memiliki keterampilan dalam mengajar
 Yang dimaksud dengan keterampilan dalam mengajar yakni suatu keterampilan yang memungkinkan seseorang dapat dengan mudah melakukan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar didalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena didalam memilikinya keterampilan mengajar ini diharapkan lebih mempermudah dalam mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
3. Guru harus memiliki kepribadian
Aspek kepribadian merupakan persyaratan yang cukup penting bagi seorang guru, karena kepribadian inilah yang menentukan apakah ia seorang pendidik atau pengajar yang baik. Seorang guru yang memiliki kepribadian yang baik akan memungkinkan dapat menjadikan anak didiknya sebagai seorang yang baik, begitu pula sebaliknya guru yang memiliki kepribadian yang buruk akan memungkinkan bisa menjadikan seseorang yang tidak baik. Dalam hubungannya dengan masalah kepribadian guru ini di dalam proses pendidikan dan pengajaran.
 Zakiah Dradjat mengatakan sebagai berikut:
“Kepribadian guru akan lebih besar pengaruhnya dan pada kepandaian dan ilmunya, terutama bagi anak yang masih dalam usia anak-anak dan masa meningkat remaja. yaitu tingkat pendidikan dasar dan menengah, karena anak didik pada tingkat tersebut masih dalam pertumbuhan.”
Dalam hal ini kepribadian yang bagaimana yang harus dimiliki oleh seorang guru, lebih lanjut Zakiah Dradjat mengatakan:
“Tujuan sekolah akan tercapai jika semua guru yang mengajar di sekolah tersebut mempunyai kepribadian yang sejalan dengan tujuan sekolah”.
Bertitik tolak dan pengertian di atas maka dapat dikatakan bahwa kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah suatu kepribadian yang selaras dengan tujuan pendidikan dan pengajaran yang dijalankan oleh sekolah.
 4. Guru harus memiliki rasa tanggungjawab
Rasa tanggung jawab ini sudah barang tentu hendaknya harus dimiliki oleh setiap guru, baik pada saat berada di lingkungan sekolah dan keluarga, sebab tanggung jawab ini nantinya akan dipertanyakan dihadirat Tuhan Yang Maha Esa.
 Peranan guru dalam interaksi belajar-mengajar antara lain adalah :
  1.  sebagai fasilitator, ialah menyediakan situasi-kondisi yang dibutuhkan oleh individu yang belajar.
  2. sebagai pembimbing, ialah memberikan bimbingan siswa dalam interaksi belajar, agar siswa mampu belajar dengan lancar dan berhasil secara efektif dan efisien.
  3. sebagai motivator, ialah pemberi dorongan semangat agar siswa mau dan giat belajar.
  4.  sebagai organisator, ialah mengorganisasikan kegiatan belajar-mengajar  siswa maupun guru.
  5.  sebagai manusia sumber, dimana guru dapat memberikan informasi apa yang dibutuhkan oleh siswa, baik pengetahuan, ketrampilan maupun sikap.
 Adapun kedudukan guru dalam interaksi belajar-mengajar antara lain ialah :
  1. Berfungsi sebagai pengajar, sebagai pengajar seorang guru diharapkan menyediakan situasi dan kondisi belajar untuk siswa dalam interaksi belajar-mengajar.
  2. Berfungsi sebagai pemimpin, ialah sebagai pemimpin yang demokratis. Sifat ini sangat diharapkan bagi seorang guru, yaitu bersifat terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain, keluhan, pikiran, perasaan, ide muridnya, serta bersedia bekerja sama, saling mengerti dan toleransi.
  3. Berfungsi sebagai pengganti orang tua, dalam interaksi belajar mengajar guru bersikap sebagai orang tua terhadap anaknya, sehingga interaksi akan berjalan dengan suasana yang menyenangkan dan intim.
2. Anak didik
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Anak didik adalah unsur  manusiawi yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Anak didik sebagai manusia yang berpotensi perlu dibina dan di bimbing dengan perantara guru.
Anak didik memiliki kedudukan yang menempati posisi yang menentukan dalam sebuah interaksi. Guru tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai subjek pembinaan. Jadi, anak didik adalah kunci yang menentukan untuk terjadinya interaksi edukatif.
          Abdul Ghofur mengatakan: “Faktor anak didik adalah merupakan salah satu faktor pendidik yang paling penting, mereka tanpa adanya faktor tersebut, maka pendidikan tidak akan berlangsung. Oleh karena itu faktor anak didik tidak dapat digantikan oleh faktor yang lain.
3.   Faktor kurikulum
 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenia tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dan siswa dalam mengorganisasikan tujuan dan isi pelajaran. Secara sederhana arti kurikulum dalam kegiatan ini menggambarkan pada isi atau pelajaran dan pada interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
4. Lingkungan
            Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah sesuatu tempat penyesuaian anak didik dimana mereka berada. Lingkungan ini meliputi keadaan ruang, tata ruang, dan berbagai situasi fisik yang ada disekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Lingkungan mempunyai pengaruh yang tidak sedikit bagi anak dalam pembentukan kepribadian atau akhlaknya. Oleh karena itu didalam agama menekankan bahwa pengawasan sangat perlu sekali diperhatikan oleh orang tua terhadap anaknya, sebab anak yang dilahirkan itu bagaikan kertas putih yang bersih belum pernah kena noda.
Lingkungan sekolah khususnya lingkungan belajar siswa, lingkungan yang baik ikut mendukung efektivitas pembelajaran. Lingkungan yang baik dimaksudkan:
  1. Lingkungan belajar yang tenang artinya siswa dan guru dapat menjaga suasana belajar yang tenang terhindar dari hiruk-pikuk yang mengganggu.
  2. Tempat belajar mengajar yang bersih dan nyaman, sehingga guru dan siswa betah dan senang belajar di kelas.
  3. Adanya hubungan yang harmonis antara siswa clan guru, siswa dengan siswa dalam pembelajaran sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan.
Sedangkan lingkungan diluar sekolah adalah lingkungan keluarga. Dalam hal ini adalah peran orang tua yang senantiasa dapat memberikan perhatian dan bimbingan kepada anaknya dalam belajar.
Oleh karena itu perlu ada suatu kerjasama yang baik antara sekolah khususnya dengan orang tua siswa dalam rangka meningkatkan prestasi dan kualitas belajar anak.

IV. Penerapan Interaksi Belajar Mengajar
 Penerapan interaksi belajar mengajar secara spesifik dimaksudkan untuk pemberian gambaran bahwa apa yangdilakukan guru dalam proses pembelajaran harus direncanakan secara sistematis. Dengan demikian terdapat hubungan antara komponen perencanaan pembelajaran dengan proses pembelajaran .
Dengan demikian indikator keberhasilan dari proses pembelajaran adalah pelaksanaan interaksi belajar mengajar yang dikelola guru secara tepat. Guru dapat mengelola interaksi belajar mengajarnyan dengan pendekatan siswa aktif atau pendekatan guru aktif.
 1. Pengertian Interaksi Belajar Mengajar
  1. Pengertian Interaksi
Interaksi Sosial berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Social Interaction yang berarti saling bertindak, interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, bersifat timbal balik antara individu, antara kelompok dan antara individu dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu dan terjadi keadaan saling mempengaruhi diantara mereka.
    1. Pengertian Belajar
Menurut Poerwodarminto, dalam kamus umum bahasa Indonesia menjelaskan ” Belajar adalah berusaha supaya memperoleh kepandaian (ilmu dan sebagainya).” Namun secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.
    1. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar dengan tujuan yang dirumuskan, hal tersebut dapat diartikan bahwa sasaran akhir proses pembelajaran adalah siswa belajar.
    1. Pengetian Interaksi dalam belajar mengajar
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan:
Interaksi belajar mengajar adalah hubungan timbal balik antara seorang guru yang berupaya memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar melalui proses perubahan, perilaku akibat adanya komunikasi guru dan siswa.
  1. Unsur-Unsur Interaksi Belajar Mengajar
Dalam setiap interaksi pendidikan akan senantiasa mengandung dua unsur pokok, yakni:
1. Unsur Normatif
Dalam interaksi normatif, antara guru dan peserta didik harus berpegang pada norma yang diyakini bersama. Pengajaran sebagai bagian dari pendidikan, sedangkan pendidikan itu sifatnya normatif. Maka dalam proses pengajaran mesti mencerminkan interaksi yang bersumber pada sumber-sumber norma yakni agama, falsafah hidup dan kesulitan.
2. Unsur Teknis
Pendidikan dapat dirumuskan pula secara teknis. Pada hakikatnya pendidikan merupakan suatu peristiwa yang merupakan kegiatan praktis yang berlangsung dalam satu masa,terikat dalam situasi, serta terarah pada satu tujuan.
Jika pendidikan diformulasikan usaha pembentukan manusia susila,pancasila sejati,manusia beragam, dan sebagainya adalah normatif dalam formulasinya. Adapun peristiwa atau rangkaian peristiwa menuju kepada pembentukan itu sendiriadalah suatu proses teknis.
Secara teoritis pemisahan pembahasan mengenai aspek normatif dan aspek teknis lazim terjadi. Namun secara praktiknya merupakan suatu kesulitan bahkan mustahil untuk memisahkan kedua unsur tersebut. Karena pendidikan merupakan satu senyawa terhadap suatu persoalan dasar yang sama.
2.3 Faktor—faktor Interaksi Belajar Mengajar
Sebagaimana diketahui bahwa proses pengajaran pada hakikatnya merupakan rangkaian kegiatan komunikasi antar subjek didik; guru dan siswa. Komunikasi antar dua subjek ini dipengaruhi oleh berbagi faktor yang mendasari terjadinya interaksi belajar mengajar yang meliputi sebagai berikut:
1. Faktor Tujuan
Terdapat istilah tujuan, baik yang bersifat umum maupun khusus dengan rincian sebagai berikut:
a. Tujuan umum yang dikenal dengan istilah aims.
    Aims sebagai suatu statemen umum yang memberikan gambaran dan arah yang akan dituju, ia menjadi pangkal tolak, ide/inspirasi dan pengarahan . Sifat umum dan luas dari aims mengharuskan untuk dijabarkan/dijelaskan secara nyata dan terarah. Maka dikenal istilah goals.
Goals lebih menyatakan suatu aktivitas. Dari atu rumusan aims dapat dijabarkannya dan dikembangkan beberapa rumusan goals. Goals lebih bersifat operasional, praktis, dan realistik daripada aims.


b. Tujuan khusus yang dikenal dengan istilah objectives
Dalam gambaran objectives tertulis suatu kegiatan peserta didik setelah menjalani interaksi pengajaran. Kegiatn yang tertulis dalam tujuan khusus ini sering dinyatakan dalam bentuk kelakuan yang dalam istilah lain disebut behavior. Maka tujuan khusus sering disebut behavioral objactives.
Dalam memantapkan rumusan tujuan khusus , maka berhubungan dengan dua hal yaitu “kesesuaian ” dan “kegunaan. Istilah kesesuian menunjukan bahwa tujuan khusus mesti sesuai dengan keadaan dan masalah yang dihadapi. Sedangkan istilah kegunaan menunjukan bahwa tujuan khusus mesti berguna serta mencerminkan nilai kegunaan dalam interaksi pengajaran.
Tujuan pendidikan yang bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yakni:
  1. Tujuan kognitif; tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan.
  2. Tujuan afektif; tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai dan alasan
  3. Tujuan psikomotorik; tujuan yang berkaitan dengan keterampilan dengan menggunakan alat indera.
Sedangkan fungsi dari tujuan pengajaran itu sendiri ialah:
  1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan aktivitan/ interaksi belajar mengajar.
  2. Menjadi penentu arah kegiatan
  3. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain pengajaran
  4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan mempeluasruang lingkupnya.
  5. Menjadi pedoman untuk mencegah/menghindari penyimpangan yang akan terjadi.
2. Faktor Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan materi oleh guru seyogyanya mengarah pada spesifik atas kecakapan yang diajarkannya. Mengingat isi, sifat dan luasnya ilmu, maka guru harus mampu menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa—apa yang akan diajarkannya kedalam bidang ilmu yang bersangkutan.
Penetapan/penentuan materi tersebut harus didasarkan pada upaya pemenuhan tujuan pengajaran dan tidak boleh menyimpang dari tujuan yang telah ada.

3. Faktor Guru Dan Peserta Didik
Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam interaksi pembelajaran. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah ditentukan, sedangkan peserta didik sebagai yang langsung menuju pada arah tujuan melalui aktivitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru.
Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa tugas seorang pengajar/guru itu sesuatu yang mulia. Kemuliaan ini mengandung dua kemanfaatan.
  1. Bagi orang yang mengajar (guru) yang menyampaikan ilmu pengetahuan maka ia akan semakin bertambah pengetahuan dan pengalamannya.
  2. Bagi orang yang diberi ilmu pengetahuan (peserta didik) akan semakin bertambah pula pengetahuan dan pengalamnanya hingga mereka dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.
Peran guru adalah ganda, disamping ia sebagai pengajar adalah sekaligus sebagai pendidik. Dengan demikian dalam waktu bersamaan ia harus mengemban dua tugas utama yaitu mengajar dan mendidik. Dalam rangka mengemban peran ganda tersebut maka secara garis besar guru harus harus memiliki persyaratan kepribadian sebagai guru yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat yang disimpulkan menjadi 3 kompetensi yakni:
  1. Kompetensi individual
  2. Kompetensi sosial
  3. Kompetensi profesional
Bagi peserta didik juga berlaku pada dirinya tugas dan kewajiban. Setidaknya ada 4 hal yang perlu diperhatikan peserta didik.
  1. Peserta didik harus mendahulukan kesucian jiwa. Imam Ghazali menyatakan: “Mendahulukan kesucian jiwa dari kerendahan akhlak dan sifat—sifat tercela.” Menurutnya, ilmu pengetahuan itu kebaikan hati, shalatnya jiwa, dan mendekatkan batin pada Allah.
  2. Peserta didik harus bersedia untuk mencari ilmu pengetahuan. Sedia mencurahkan segala tenaga,jiwa,raga dan pikiran untuk berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
  3. Jangan menyombongkan diri dengan ilmu yang telah diperolehnya, apalagi menetang guru. Ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
  4. Peserta didik harus mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Dalam hal ini Imam Ghazali menyatakan bahwa untuk dapat mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan dapat melalui dua sebab; Kemuliaan hasil/perolehan dan kepercayaan dan kekuatan dalil/argumentasinya.

4. Faktor Metode
Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan dan tujuan yang akan dicapai tersebut merupakan faktor utama yang menentukan suatu metode.
5. Faktor situasi
Yang dimaksud situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, seperti faktor kelelahan dan semangat belajar. Juga keadaan cuaca, keadaan guru, keadaan sarana dan prasarana yang memadai yang mungkin mengganggu atau menghambat dalam proses pembelajaran.
Diantara keadaan tersebut ada yang dapat diperhitungkan dan ada pula yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan, guru dapat menyediakan alternatif metode—metode mengajar dengan mengingat kemungkinan—kemungkian perubahan situasi.
Sedangkan terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan yang disebabkan perubahan secara tiba-tiba/mendadak diperlukan kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera mengenai cara/metode yang digunakan.
D. Pola Interaksi dalam Pembelajaran
Dalam proses interaksi antara guru dan siswa memiliki pola yang meliputi sebagai berikut:
1. Pola dasar interaksi
Dalam pola dasar interaksi belum terlihat unsur pembelajaran yang meliputi unsur guru, isi pembelajaran dan siswa yang semuanya belum ada yang mendominasi proses interaksi dalam pembelajaran. Dijelaskan bahwa adakalanya guru mendominasi proses interaksi, adakalanya isi yang lebih mendominasi, adakalanya juga siswa yang mendominasi interaksi tersebut atau bahkan adakalanya antara guru dan siswanya secara seimbang saling mendominasi.
2. Pola interaksi berpusat pada isi
Dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan guru mengajarkan isi pembelajaran disatu sisi dan siswa mempelajari isi pembelajaran tersebut disisi lain, namun kegiatan tersebut masih berpusat pada isi/materi pembelajaran.

3. Pola interaksi berpusat pada guru
Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata bepusat pada guru, pada umumnya terjadi proses yang bersifat penyajian atau penyampaian isi atau materi pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran semacam ini, kegiatan sepenuhnya ada dipihak guru yang bersangkutan, sedangkan siswa hanya menerima dan diberi pembelajaran yang disebut juga siswa pasif. 
4. Pola interaksi berpusat pada siswa
Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata berpusat pada siswa, siswa merencanakan sendiri materi pembelajaran apa yang akan dipelajari dan melaksanakan proses belajar dalam mempelajari materi pembelajaran tersebut. Peran guru lebih banyak bersifat permisif, yakni membolehkan setiap kegiatan yang dilakukan para siswa dalam mempelajari apapun yang dikehendakinya.
Untuk meningkatkan keaktifan proses pembelajaran ini, guru membuat perencanaan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya didasarkan atas rencana yang telah dibuat. Dengan cara semacam ini, diharapkan hasil belajar lebih baik lagi sehingga terjadi keseimbangan keaktifan baik dipihak guru maupun dipihak siswa.
    

DAFTAR PUSTAKA
HM, Rohani Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta:PT. Rineka Cipta.    
Murniasih, Eri dkk. Tanpa Tahun. 101TipsBelajar Efektif danMenyenangkan. Semarang: PT. Sindur Press.
Suhardi dan Sri Sunarti. 2009. Sosiologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Sumiati dan Asra. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima.